Kamis, 17 Agustus 2023

BUKU SEJARAH KEBUN RAYA SAMBAS




Pembangunan Kebun Raya Sambas merupakan salah satu komitmen Bangsa Indonesia terhadap Kesepakatan International seperti yang tertuang dalam United Nation Convention on Biological Diversity (CBD) tahun 1992 dan Global Strategy for Plant Conservation (GSPC).

Kebun Raya adalah suatu institusi yang mengelola koleksi tumbuhan hidup yang terdokumentasi dengan tujuan melaksanakan penelitian ilmiah, konservasi, peragaan dan pendidikan (Botanical Garden Conservation International -BGCI- 2000). Sedangkan di dalam Esiklopedia Encarta, Kebun Raya (botanical garden) merupakan tempat tumbuh bagi tumbuhan dan diperuntukkan terutama untuk tujuan ilmiah dan pendidikan. Kebun raya memiliki koleksi tumbuhan di alam terbuka dan di dalam rumah kaca, juga terdapat koleksi tumbuhan yang dikeringkan atau herbarium, serta ada fasilitas ruang belajar, laboratorium, perpustakaan, museum, dan tanaman percobaan.

Proses  inisiasi  dan  tahapan  pengembangan  Kebun  Raya  Sambas

dimulai tahun 2001 hingga saat ini. Luas Kebun Raya Sambas kurang lebih

300 hektar, yang terletak pada ketinggian 32 75m di atas permukaan air laut (mdpl). Kebun Raya Sambas memiliki tema unik yakni Riparian Alami, yang tidak dimiliki oleh seluruh kebun raya yang ada di wilayah nasional, regional maupun internasional. Kebun Raya Sambas dirancang memiliki 11 zona pemanfaatan ruang yakni: Zona Penerima terdiri Pusat Pengunjung (Visitor Centre) dan Parkir, Zona Pembibitan, Zona Penelitian (Research Centre), Zona Perkantoran, Zona Wisma, Zona Service, Zona Bermain dan Rekreasi, Zona Koleksi Tumbuhan Riparian, Zona Koleksi Tumbuhan Tumbuhan Liar, Zona Koleksi Tumbuhan Domestikasi, dan Zona hutan alam/in situ.

Hasil survei tahun 2008, terlacak sebanyak 433 nomor yang teridentifikasi 41 suku, 86 marga, 113 jenis, dan 68 nomor dari 25 nama daerah masih belum teridentifikasi. Kategori kegunaan tumbuhan yang ada di hutan KRS berdasarkan fungsinya sebagian besar sebagai bahan bangunan (49 jenis), bahan pangan (29 jenis) dan bahan obat (20 jenis). Dipterocarpaceae merupakan suku terbesar yang diwakili oleh 14 jeniskayu, terutama dari marga Shorea, Myrtaceae, Sapotaceae, Lauraceae, danClusiaceae.

Tumbuhan bahan pangan tercatat 20, jenisnya adalah penghasil buah seperti durian (Durio zibethinus Murr.), rambai (Baccaurea motleyana Mull.Arg.), tarap (Artocarpus elasticus Reinw.) dan cempedak (Artocarpus integer (Thunb.) Merr.), serta jenis menteng-mentengan (Baccaurea spp.).    Tumbuhan dapat digunakan sebagai bahan pengobatan tradisional, antara lain seperti: Arcangelisia flava (L.) Merr.; Calophyllum pulcherrimum Wall.; Caesalpinia sp.; Poikilospermum suaveolens (Blume) Merr; Garcinia nervosa Miq.; Rauvolfia verticillata (Lour.)

Kelompok potensi hias yang mencolok adalah kantung semar/entuyut yang memiliki nilai komersial dan konservasi tinggi, diantaranya Nepenthes gracilis Korth., Nepenthes mirabilis (Lour.) Druce, dan Nepenthes ampullaria Jack mendominasi kawasan hutan berawa seperti hutan di KRS ini. Selain itu juga terdapat beberapa jenis berpotensi hias lainnya seperti Piper porphyrophyllum N.E. Br. yang daunnya berwarna merah menyala dan Ixora javanica (Blume) DC yang bunga merahnya berkelompok-kelompok.

Semoga dengan terbitnya Buku Sejarah Pembangunan Kebun Raya Sambas ini menjadi titik acuan percepatan peresmian Launching KebuRaya Sambas yang sudah lama dinantikan.