Durian atau Durio spp. merupakan
tanaman buah yang banyak dikenal di masyarakat. Namun, masih banyak yang belum
mengetahui keragaman buah durian yang terdapat di Indonesia. Durio spp.
merupakan salah satu marga dari suku Malvaceae dan berbagai jenis durian masih
banyak yang tumbuh secara liar di hutan-hutan primer maupun sekunder dan
kebun-kebun masyarakat, terutama di Kalimantan dan Sumatera (Krismawati 2012).
Menurut Kostermans (1958), terdapat 27 jenis Durio di dunia, 18 jenis
diantaranya terdapat di Kalimantan, 11 jenis di Malaya, dan 7 jenis di
Sumatera. Kalimantan sendiri merupakan pusat keragaman Durio dengan tingkat
endemisitas tinggi. Keanekaragaman durian yang tinggi merupakan potensi besar
untuk pengembangan tanaman buah lokal Indonesia. Program domestikasi yang
mengacu pada kegiatan pemuliaan tanaman durian akan dapat memberikan bibit
durian unggul pada aspek produksi dan kualitas buah yang dihasilkan (Uji 2005).
Kandungan nutrisi pada buah durian juga menjadikan durian potensial untuk terus
dikembangkan sebagai buah konsumsi segar. Produk turunan berupa makanan kecil
juga dihasilkan oleh masyarakat lokal dalam rangka pengembangannya (Brown
1997). Upaya pengkoleksian berbagai jenis durian dari hutan di Indonesia masih
belum maksimal dan jenis-jenis yang terkoleksi belum lengkap. Selain itu,
degradasi hutan yang semakin parah menjadikan jenis-jenis durian tersebut
semakin terancam keberadaannya. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor,
LIPI (PKT KR-LIPI atauKRB) sebagai lembaga konservasi ex-situ memiliki peranan
untuk mengkonservasikan berbagai jenis tumbuhan asli Indonesia, salah satunya
Durio spp. Dalam perkembangan dan dinamika koleksinya, Kebun Raya Bogor telah
berhasil mengkoleksi sejumlah jenis Durio spp. Dalam tugas dan fungsinya, Kebun
Raya Bogor juga melakukan pengembangan kawasan baru untuk tujuan konservasi
jenis-jenis terancam dan jenis potensial di seluruh tanah air yang dilakukan
sejak tahun 2005 (Purnomo et al. 2015). Kawasan baru tersebut berbentuk Kebun
Raya Daerah (KRD) yang dikelola oleh pemerintah daerah provinsi, kabupaten atau
kota dan diarahkan untuk memiliki tema koleksi yang khas sesuai dengan
keunggulan lokal daerah setempat. Salah satunya adalah Kebun Raya Sambas yang
berlokasi di Kalimantan Barat. Hutan Kalimantan merupakan salah satu dari 15
hutan hujan tropis yang paling penting di dunia (Suwarno et al. 2009). Sampai
saat ini, informasi koleksi buah-buahan di Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Sambas
belum dilengkapi, sehingga makalah ini bertujuan untuk mendata jumlah koleksi
Durio spp yang dikoleksi oleh kedua kebun raya. Selain itu, dijabarkan juga
asal koleksi dan penggalian informasi mengenai status jenis berdasarkan
International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist, potensi dan
manfaat yang diberikan oleh beberapa jenis Durio tersebut. masih sangat perlu
untuk dilakukan. Ditambah lagi dengan degradasi hutan yang semakin besar
menjadikan keberadaan Durio spp. menjadi terancam di habitat aslinya. Jika
kondisi ini berlanjut terus-menerus, Durio spp. akan menjadi semakin sulit
ditemukan dan terancam kepunahan, yang disebabkan oleh penurunan jumlah
populasi yang drastis akibat penyusutan habitat dan eksploitasi yang berlebihan
(Purnomo et al. 2015). Koleksi Durio spp. yang dimiliki oleh Kebun Raya Bogor
didapatkan dari hasil kegiatan eksplorasi, terutama di Pulau Sumatera dan
Kalimantan. Sebelumnya, Kebun Raya Bogor telah melaksanakan program Pemanfaatan
dan Pengembangan Tumbuhan Berpotensi Buah dari Kalimantan melalui kegiatan
eksplorasi untuk pengkayaan koleksi tumbuhan di Kebun Raya Bogor pada tahun
anggaran 2007-2010. Program tersebut bertujuan untuk mendapatkan berbagai
material koleksi tumbuhan buah Kalimantan termasuk Durio spp untuk
dikonservasikan secara ex-situ di Kebun Raya Bogor. Selain itu, dilakukan
pencatatan terhadap data lingkungan dan penggalian informasi etnobotani tentang
pemanfaatan tanaman tersebut oleh masyarakat lokal. Untuk melengkapi data
tumbuhan yang diambil, dilakukan pula data morfologi tumbuhan dan buah, serta
pengukuran total padatan terlarut untuk menentukan kadar kemanisan daging buah
durian. Kegiatan dilakukan di Kalimantan Barat, Tengah dan Utara dengan mengambil
koleksi di hutan lindung, hutan adat, kebun, ladang, pekarangan milik
masyarakat lokal dan pasar. Daerah-daerah yang dikunjungi, diantaranya
Kabupaten Barito Timur, Selatan, dan Utara, Kabupaten Katingan dan Kota
Palangkaraya yang terletak di Kalimantan Tengah dan Kabupaten Malinau yang
merupakan bagian dari Kalimantan Utara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar