Minggu, 29 Agustus 2021

Durian Burung (Durio testudinarius Becc)


Durian atau Durio spp. merupakan tanaman buah yang banyak dikenal di masyarakat. Namun, masih banyak yang belum mengetahui keragaman buah durian yang terdapat di Indonesia. Durio spp. merupakan salah satu marga dari suku Malvaceae dan berbagai jenis durian masih banyak yang tumbuh secara liar di hutan-hutan primer maupun sekunder dan kebun-kebun masyarakat, terutama di Kalimantan dan Sumatera (Krismawati 2012). Menurut Kostermans (1958), terdapat 27 jenis Durio di dunia, 18 jenis diantaranya terdapat di Kalimantan, 11 jenis di Malaya, dan 7 jenis di Sumatera. Kalimantan sendiri merupakan pusat keragaman Durio dengan tingkat endemisitas tinggi. Keanekaragaman durian yang tinggi merupakan potensi besar untuk pengembangan tanaman buah lokal Indonesia. Program domestikasi yang mengacu pada kegiatan pemuliaan tanaman durian akan dapat memberikan bibit durian unggul pada aspek produksi dan kualitas buah yang dihasilkan (Uji 2005). Kandungan nutrisi pada buah durian juga menjadikan durian potensial untuk terus dikembangkan sebagai buah konsumsi segar. Produk turunan berupa makanan kecil juga dihasilkan oleh masyarakat lokal dalam rangka pengembangannya (Brown 1997). Upaya pengkoleksian berbagai jenis durian dari hutan di Indonesia masih belum maksimal dan jenis-jenis yang terkoleksi belum lengkap. Selain itu, degradasi hutan yang semakin parah menjadikan jenis-jenis durian tersebut semakin terancam keberadaannya. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, LIPI (PKT KR-LIPI atauKRB) sebagai lembaga konservasi ex-situ memiliki peranan untuk mengkonservasikan berbagai jenis tumbuhan asli Indonesia, salah satunya Durio spp. Dalam perkembangan dan dinamika koleksinya, Kebun Raya Bogor telah berhasil mengkoleksi sejumlah jenis Durio spp. Dalam tugas dan fungsinya, Kebun Raya Bogor juga melakukan pengembangan kawasan baru untuk tujuan konservasi jenis-jenis terancam dan jenis potensial di seluruh tanah air yang dilakukan sejak tahun 2005 (Purnomo et al. 2015). Kawasan baru tersebut berbentuk Kebun Raya Daerah (KRD) yang dikelola oleh pemerintah daerah provinsi, kabupaten atau kota dan diarahkan untuk memiliki tema koleksi yang khas sesuai dengan keunggulan lokal daerah setempat. Salah satunya adalah Kebun Raya Sambas yang berlokasi di Kalimantan Barat. Hutan Kalimantan merupakan salah satu dari 15 hutan hujan tropis yang paling penting di dunia (Suwarno et al. 2009). Sampai saat ini, informasi koleksi buah-buahan di Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Sambas belum dilengkapi, sehingga makalah ini bertujuan untuk mendata jumlah koleksi Durio spp yang dikoleksi oleh kedua kebun raya. Selain itu, dijabarkan juga asal koleksi dan penggalian informasi mengenai status jenis berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist, potensi dan manfaat yang diberikan oleh beberapa jenis Durio tersebut. masih sangat perlu untuk dilakukan. Ditambah lagi dengan degradasi hutan yang semakin besar menjadikan keberadaan Durio spp. menjadi terancam di habitat aslinya. Jika kondisi ini berlanjut terus-menerus, Durio spp. akan menjadi semakin sulit ditemukan dan terancam kepunahan, yang disebabkan oleh penurunan jumlah populasi yang drastis akibat penyusutan habitat dan eksploitasi yang berlebihan (Purnomo et al. 2015). Koleksi Durio spp. yang dimiliki oleh Kebun Raya Bogor didapatkan dari hasil kegiatan eksplorasi, terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sebelumnya, Kebun Raya Bogor telah melaksanakan program Pemanfaatan dan Pengembangan Tumbuhan Berpotensi Buah dari Kalimantan melalui kegiatan eksplorasi untuk pengkayaan koleksi tumbuhan di Kebun Raya Bogor pada tahun anggaran 2007-2010. Program tersebut bertujuan untuk mendapatkan berbagai material koleksi tumbuhan buah Kalimantan termasuk Durio spp untuk dikonservasikan secara ex-situ di Kebun Raya Bogor. Selain itu, dilakukan pencatatan terhadap data lingkungan dan penggalian informasi etnobotani tentang pemanfaatan tanaman tersebut oleh masyarakat lokal. Untuk melengkapi data tumbuhan yang diambil, dilakukan pula data morfologi tumbuhan dan buah, serta pengukuran total padatan terlarut untuk menentukan kadar kemanisan daging buah durian. Kegiatan dilakukan di Kalimantan Barat, Tengah dan Utara dengan mengambil koleksi di hutan lindung, hutan adat, kebun, ladang, pekarangan milik masyarakat lokal dan pasar. Daerah-daerah yang dikunjungi, diantaranya Kabupaten Barito Timur, Selatan, dan Utara, Kabupaten Katingan dan Kota Palangkaraya yang terletak di Kalimantan Tengah dan Kabupaten Malinau yang merupakan bagian dari Kalimantan Utara.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar